Daerah

Tholib Mahbub Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Diskusi Film Dokumenter

×

Tholib Mahbub Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Diskusi Film Dokumenter

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok Istimewa

POTRETCELEBES, Palu — Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akhwalus Syakhsiyyah Universitas Islam Negeri (Unisa) Palu, Tholib Mahbub, menginisiasi kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul “Kiamat Pulau Kecil”. Film tersebut merupakan karya empat jurnalis dari ekspedisi Indonesia Baru yang mengangkat isu kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman sekaligus edukasi kepada masyarakat terkait bahaya pertambangan, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah. Dalam pemaparannya, Tholib menjelaskan bahwa kegiatan ini juga didasarkan pada hasil sosialisasi yang dilakukan di Desa Loli, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

“Hasil wawancara kami dengan kepala dusun dan lembaga adat menunjukkan bahwa Desa Loli Tasiburi menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Banawa yang hingga saat ini masih menolak aktivitas pertambangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penolakan tersebut sempat memicu konflik sosial yang menyebabkan ketegangan di tengah masyarakat. Namun, berkat solidaritas dan kekompakan warga, konflik tersebut berhasil diredam.

“Masyarakat tetap bersatu menolak tambang demi menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan hidup mereka,” katanya.

Kekhawatiran juga datang dari kalangan ibu-ibu di desa tersebut. Mereka mengaku cemas terhadap masa depan anak cucu mereka jika aktivitas pertambangan terus berlanjut. Pasalnya, hasil perkebunan seperti kemiri, cengkeh, pala, dan kakao yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpotensi hilang.

Dalam kesempatan itu, Tholib juga menyampaikan kritik terhadap narasi hilirisasi industri nikel yang kerap dikaitkan dengan isu transisi hijau.

“Ketika ada perusahaan masuk dengan dalih hilirisasi nikel dan mengklaim sebagai bagian dari transisi penghijauan, bagi saya itu tidak masuk akal. Itu hanya dalih untuk mempermudah masuknya investasi tambang ke daerah,” tegasnya.

Ia juga menyinggung berbagai contoh kerusakan lingkungan dan bencana yang terjadi di sejumlah daerah sebagai dampak dari aktivitas pertambangan. Salah satunya adalah bencana di Aceh Tamiang yang menurutnya harus menjadi pelajaran bagi masyarakat.

“Seharusnya peristiwa tersebut menjadi peringatan besar bahwa kerusakan lingkungan adalah akibat dari keserakahan, baik oleh oknum pemerintah maupun kelompok elit,” tambahnya.

Tholib turut menanggapi pernyataan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, terkait rencana legalisasi pertambangan di Parigi Moutong. Ia menilai tidak ada aktivitas tambang yang benar-benar ramah lingkungan sebagaimana yang sering diklaim.

“Faktanya, tidak ada satu pun aktivitas tambang yang benar-benar ramah lingkungan,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam.

“Jaga alam kita, maka alam akan memberikan kita segalanya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *