Berita TerkiniPendidikan & Teknologi

Sekolah Daun Hadir di Pedalaman Sigi, Relawan Tempuh 8 Jam Demi Literasi Anak

×

Sekolah Daun Hadir di Pedalaman Sigi, Relawan Tempuh 8 Jam Demi Literasi Anak

Sebarkan artikel ini
Foto Dok Istimewa

POTRETCELEBES, Sigi – Yayasan Rumah Literasi Ceria bersama Arutala Sigi melaksanakan kegiatan pengabdian bertajuk Sekolah Daun di Desa Mantikole, Dusun Topesino, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, pada 2–3 Mei 2026. Program ini mengusung tema “Pemberdayaan Sekolah dalam Penguatan Literasi Dasar melalui Pembelajaran Menyenangkan Berbasis Alam”.

Baca Juga: Merah Putih di Pelosok Negeri, AMURA Parimo Bawa Semangat Kemerdekaan ke Simbulanga Parimo

Kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pendidikan dasar, khususnya di wilayah dengan akses terbatas. Untuk mencapai lokasi, tim relawan harus menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam dengan kondisi geografis pegunungan di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut.

Perjalanan panjang itu sekaligus menggambarkan tantangan nyata dalam pemerataan akses pendidikan. Di sisi lain, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya wilayah yang membutuhkan perhatian dan kolaborasi berbagai pihak, terutama dalam hal fasilitas dan layanan pendidikan.

Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan melibatkan relawan yang terbagi dalam beberapa kelompok pengajar. Pada hari pertama, Sabtu (2/5), agenda diisi dengan perjalanan menuju lokasi, pembukaan kegiatan, serta briefing teknis.

Sementara itu, pada hari kedua, Minggu (3/5), kegiatan difokuskan pada program inti, meliputi bakti sosial, pembelajaran calistung (membaca, menulis, dan berhitung), sosialisasi pencegahan pernikahan dini, serta penyaluran donasi alat tulis kepada anak-anak.

Dalam pelaksanaannya, para relawan menemukan bahwa sarana belajar di wilayah tersebut masih tergolong sederhana dan memerlukan penguatan agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal. Temuan ini menjadi catatan penting sekaligus peluang untuk memperluas kolaborasi dalam peningkatan kualitas pendidikan di daerah terpencil.

Ketua kegiatan, Imron, menyampaikan bahwa program Sekolah Daun dirancang dengan pendekatan kontekstual berbasis alam. Melalui metode ini, anak-anak diajak belajar dari lingkungan sekitar dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

“Fokus kami pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung, sekaligus membangun keberanian serta partisipasi aktif anak-anak dalam proses belajar,” ujar Imron.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan langkah kecil yang diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan. Menurutnya, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Melalui kegiatan ini, kami membuka ruang kolaborasi agar semakin banyak pihak dapat terlibat dalam mendukung anak-anak di wilayah seperti Mantikole,” tambahnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama masyarakat sebagai simbol kebersamaan sekaligus harapan akan keberlanjutan program serupa di masa mendatang.

Melalui program Sekolah Daun, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa pemerataan pendidikan memerlukan sinergi berbagai pihak, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *