Daerah

Harga Beras Petani Sigi Stabil, Petani Berharap Perbaikan Irigasi

×

Harga Beras Petani Sigi Stabil, Petani Berharap Perbaikan Irigasi

Sebarkan artikel ini
Petani Sigi, Dedi Triartono (35). Foto: Dok Potretcelebes.com/Melin

POTRETCELEBES, Sigi – Petani di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah mengaku merasakan dampak positif program subsidi pupuk dari pemerintah yang membantu menekan biaya produksi. Di sisi lain, mereka berharap pemerintah segera memperbaiki jaringan irigasi karena pasokan air masih menjadi kendala utama bagi sektor pertanian di wilayah tersebut.

Baca Juga: Anwar Hafid Dampingi Zulkifli Hasan Serahkan Bantuan Pupuk untuk Petani Sigi

Salah seorang petani, Dedi Triartono (35), anggota Kelompok Tani Sukamaju Satu, mengatakan saat ini ia membudidayakan tiga komoditas utama, yakni padi, tomat, dan terong. Menurutnya, harga beras di tingkat petani hingga kini masih relatif stabil dan tidak mengalami penurunan yang signifikan.

“Kalau harga beras terbilang stabil. Alhamdulillah sampai sekarang tidak turun,” ujar Dedi.

Ia menjelaskan, kebijakan subsidi pupuk turut memberikan manfaat nyata bagi petani. Harga pupuk urea maupun NPK Phonska yang sebelumnya berada di atas Rp100 ribu per sak kini turun menjadi sekitar Rp90 ribuan sehingga mampu mengurangi beban biaya produksi.

“Terutama pupuk yang sekarang disubsidi. Itu sangat berdampak karena biaya produksi jadi lebih ringan,” katanya.

Selain subsidi pupuk, kelompok tani di Desa Langaleso juga memperoleh berbagai bantuan dari pemerintah berupa benih, alat dan mesin pertanian, termasuk traktor yang digunakan secara bergiliran antar kelompok tani. Para petani juga mendapatkan pendampingan dari penyuluh pertanian, termasuk pelatihan mengenai sistem pertanian organik.

Baca Juga: Pemkab Sigi Terima 1,5 Juta Bibit Kakao, Bupati Rizal: Fokus Tingkatkan Produktivitas Petani

Meski demikian, Dedi menilai persoalan irigasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Menurutnya, meskipun jaringan irigasi yang rusak akibat gempa telah diperbaiki, distribusi air ke lahan pertanian masih belum stabil.

“Yang paling utama itu air. Daerah kami berada di bagian paling hilir, jadi pasokan air kadang ada, kadang tidak. Itu yang paling kami butuhkan,” jelasnya.

Sementara itu, untuk komoditas hortikultura seperti tomat dan terong, Dedi mengaku petani masih bergantung pada sistem permodalan dari pedagang pengepul. Tingginya biaya produksi membuat sebagian besar petani kesulitan jika harus mengandalkan modal pribadi.

“Kalau untuk tomat dan terong, modalnya sangat besar. Kami banyak bergantung pada pengepul untuk membantu permodalan,” ungkapnya.

Dedi berharap pemerintah terus menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pupuk bersubsidi serta mempercepat pembenahan jaringan irigasi. Menurutnya, ketersediaan air menjadi faktor paling penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di Kabupaten Sigi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *