Daerah

Harga Kakao Petani Sigi Naik Dua Kali Lipat, Kini Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

×

Harga Kakao Petani Sigi Naik Dua Kali Lipat, Kini Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

Sebarkan artikel ini
Ketua Kelompok Tani Mari Bersama, Adi (52). Foto: potretcelebes.com/Melin

POTRETCELEBES, Sigi — Harga komoditas kakao di tingkat petani di Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Harga kakao yang sebelumnya berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram kini mencapai Rp100.000 per kilogram, memberikan angin segar bagi para petani.

Ketua Kelompok Tani Mari Bersama, Adi (52), mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kakao, tetapi juga komoditas jagung. Meski peningkatannya tidak sebesar kakao, harga jagung pakan naik dari Rp5.000 menjadi Rp6.000 per kilogram. Sementara itu, jagung manis dijual dengan sistem per karung seharga Rp100.000 hingga Rp200.000, bahkan dapat mencapai Rp300.000 saat pasokan terbatas.

“Alhamdulillah untuk kelompok saya, kelancaran pupuk itu lancar sekali. Dari musim tanam itu tidak pernah terhambat,” ujar Adi.

Menurutnya, selain diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, kelompok tani juga memperoleh dukungan dari pemerintah melalui bantuan bibit jagung varietas RK457 dari Kementerian Pertanian serta alat tanam. Bantuan tersebut disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing kelompok tani.

Adi menjelaskan, kelompok yang dipimpinnya tidak memiliki lahan persawahan sehingga memperoleh bantuan berupa bibit kelapa genjah dan kakao sebagai komoditas utama yang dikembangkan.

Meski demikian, petani di Desa Langaleso masih menghadapi persoalan keterbatasan irigasi. Sejak gempa bumi yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018, jaringan irigasi di wilayah tersebut belum sepenuhnya pulih. Kondisi itu membuat petani mengandalkan mesin pompa air atau alkon bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

“Kami di sini belum, akses air kemarin belum ada. Jadi kadang kami cuma menggunakan alkon,” katanya.

Selain persoalan irigasi, petani kakao juga dihadapkan pada serangan penyakit bercak daun yang berpotensi menurunkan produktivitas tanaman. Adi berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan pendampingan teknis agar masalah tersebut dapat segera diatasi.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, Adi mengapresiasi peran penyuluh pertanian yang dinilai aktif mendampingi petani di lapangan. Menurutnya, kehadiran penyuluh menjadi salah satu faktor penting dalam membantu petani mengatasi berbagai persoalan budidaya.

“Alhamdulillah penyuluh yang untuk desa kami rutin turun di lapangan, responnya penyuluh itu alhamdulillah bagus,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *