Berita Terkini

Kisah Dokter Perempuan Inspiratif Pimpin RSUD Tora Belo Sigi

×

Kisah Dokter Perempuan Inspiratif Pimpin RSUD Tora Belo Sigi

Sebarkan artikel ini
Direktur RSUD Torabelo Sigi, dr. Diah Ratnaningsih. Foto: Dok Angelina/journalrakyat.com

POTRETCELEBES, Sigi – Bagi dr. Diah Ratnaningsih, menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa sejak masa kecil. Kini, lebih dari satu dekade sejak menjejakkan kaki di Kabupaten Sigi sebagai tenaga medis, ia dipercaya untuk memimpin Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tora Belo, rumah sakit rujukan utama di kabupaten tersebut.

Perempuan kelahiran Sidoarjo, 16 Desember 1982, mengungkapkan bahwa cita-cita masa kecilnya untuk menjadi dokter bukan hanya sekadar impian belaka. Dengan ketekunan dan semangat untuk membantu sesama, ia membuktikan bahwa seorang perempuan bisa tumbuh menjadi pemimpin layanan kesehatan di daerah.

“Dulu, waktu ditanya cita-cita, saya langsung jawab mau jadi dokter. Waktu itu, saya cuma mikir ingin bantu orang lain,” kenang Diah, mengenang perjalanan awalnya dalam dunia medis.

Namun, Diah menyadari bahwa untuk benar-benar dapat membantu orang, niat baik harus diiringi dengan pengetahuan yang memadai. “Jangan sampai karena tidak paham, niat membantu malah mencelakakan. Ilmu kedokteran terus berkembang, jadi tantangannya tidak pernah habis,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (9/5/2024).

Pendidikan kedokterannya ia tempuh di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Setelah lulus, ia diterima sebagai CPNS di Kabupaten Sigi pada tahun 2010. Penempatan pertama Diah adalah di Puskesmas Biromaru. Dengan kondisi darurat yang ada, di mana tidak ada dokter yang tersedia, Diah memutuskan untuk berangkat ke Sigi, meskipun harus meninggalkan bayi yang baru berusia lima bulan di Surabaya.

“Waktu itu, saya satu-satunya dokter umum yang menangani 18 desa. Setiap hari, dari pagi hingga malam, saya menangani pasien, termasuk kasus gawat darurat,” ujar Diah mengenang masa-masa sulit tersebut.

Diah tidak hanya berperan sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai pemimpin. Dedikasi dan kerja kerasnya membuatnya diangkat menjadi Kepala Puskesmas Biromaru dan kemudian dimutasi ke Puskesmas Sibalaya, di mana ia mencatatkan berbagai prestasi. Salah satunya adalah inovasi penanganan stunting, seperti program Benua Ntoveae yang memberikan rumah kecil untuk anak-anak stunting selama pandemi, dengan pengiriman makanan bergizi dan pelatihan memasak untuk ibu-ibu.

Di bawah kepemimpinan Diah, Puskesmas Sibalaya berhasil meraih penghargaan di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. Namun, perjalanan Diah tidak selalu mulus. Pada tahun 2020, suaminya yang juga seorang dokter meninggal dunia akibat COVID-19.

“Suami saya, yang menggantikan saya sebagai Kepala Puskesmas Biromaru, kemungkinan terpapar setelah mendampingi Bupati dan Wakil Bupati dalam kunjungan kerja ke Kecamatan Lindu. Kami sempat masuk ICU di rumah sakit Surabaya,” kenang Diah dengan suara bergetar.

Setelah kehilangan suami tercinta, Diah kembali memimpin Puskesmas Biromaru dan meraih akreditasi A. Keberhasilannya ini menarik perhatian Bupati Sigi, yang kemudian memanggilnya untuk berbagi rahasia suksesnya. Keesokan harinya, Diah dilantik menjadi Direktur RSUD Tora Belo.

“Jujur, saya kaget. Namun, saya terima amanah ini karena saya percaya rumah sakit ini adalah harapan masyarakat Sigi,” ujarnya.

Sejak memimpin RSUD Tora Belo lebih dari satu setengah tahun, Diah menghadapi berbagai tantangan besar. Menurutnya, rumah sakit ini seperti puskesmas besar yang harus menjalankan semua sistem dengan baik. Meski begitu, prinsip Diah tetap sama: semua pasien harus dilayani dengan setara tanpa diskriminasi.

“Saya harus jadi role model bagi dokter, perawat, dan seluruh pegawai rumah sakit. Saya harus hadir di tengah mereka, ikut apel, dan menunjukkan kedisiplinan. Tidak boleh datang seenaknya saja,” ungkap Diah.

Namun, tak sedikit tantangan yang ia hadapi, terutama dalam melayani publik. “Dukanya? Ya, pasti ada. Dalam pelayanan, meskipun kita sudah melakukan banyak hal baik, satu kesalahan bisa dibesar-besarkan. Tapi kami sadar, itu bagian dari pelayanan publik yang harus kami terima. Justru itu menjadi cambuk untuk kami agar ke depan menjadi lebih baik,” tambahnya.

Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin rumah sakit, Diah juga masih melanjutkan pendidikan S2. Meski demikian, ia tetap memprioritaskan keluarga. “Saya single parent. Anak pertama saya mondok di Surabaya, anak kedua bersama saya di sini. Sebelum ke rumah sakit, saya harus menyiapkan semuanya. Semua harus ekstra karena tidak ada lagi suami yang bisa berbagi tugas,” tuturnya.

Bagi Diah, menjadi dokter bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. Menjadi pemimpin di rumah sakit adalah bentuk pengabdian tertinggi yang terus ia jalani dengan dedikasi, empati, dan semangat untuk membangun pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi di Kabupaten Sigi.

Penulis: Angelina|Editor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *