Daerah

Forum Cendekia Soroti Pentingnya Dialog dan Peran Pemerintah dalam Meredam Ketegangan Sosial

×

Forum Cendekia Soroti Pentingnya Dialog dan Peran Pemerintah dalam Meredam Ketegangan Sosial

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok Opick

POTRETCELEBES, Palu – Forum Mimbar Cendekia yang digagas oleh Cendekia Society.id berhasil menghadirkan ruang dialog konstruktif dalam membahas tema “Menakar Narasi Gempa dan Ritual: antara Pelestarian Kearifan Lokal dan Kacamata Aqidah Melihat Bencana Alam”, Ahad (21/06/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut menghadirkan Adiaramu Lingga Sastra, mahasiswa Al-Azhar University Kairo sekaligus penulis dan budayawan, serta Abd. Fattah Fathurozzy, Founder Singgah Dakwah dan pengurus MUI Kabupaten Tojo Una-Una periode 2025-2030 sebagai narasumber. Sementara forum dipandu oleh Maryam Dg. Manase selaku fasilitator dan pemandu diskusi.

Forum yang diinisiasi oleh Cendekia Society.id berkolaborasi dengan Tutur Sastra.Id dan Komunitas Singgah Dakwah, digelar sebagai respons atas berkembangnya perdebatan publik terkait hubungan antara ritual adat, keyakinan keagamaan, dan bencana alam yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Dalam suasana dialog yang berlangsung hangat dan penuh penghormatan terhadap perbedaan pandangan, para narasumber menekankan pentingnya menghadirkan ruang perjumpaan antara nilai-nilai agama dan budaya. Forum ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan keduanya, melainkan mencari titik temu agar agama tetap menjadi pedoman moral dan aqidah, sementara budaya dapat dipahami sebagai warisan sosial yang perlu dikaji, dilestarikan, dan ditempatkan secara proporsional dalam kehidupan masyarakat.

Peserta forum juga menyoroti pentingnya membangun ruang diskusi yang sehat agar masyarakat tidak terjebak pada polarisasi, saling menyalahkan, maupun penyebaran narasi yang berpotensi memecah persatuan di tengah keberagaman pandangan yang ada.

Sebagai hasil forum, peserta Mimbar Cendekia menghasilkan empat rekomendasi penting.

Pertama, masyarakat perlu meningkatkan kecerdasan digital dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang beredar di media sosial, terutama konten yang mengandung unsur kebencian, fitnah, adu domba, provokasi, maupun fanatisme yang berlebihan.

Kedua, pemerintah diharapkan hadir secara aktif dalam merespons berbagai isu sosial yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya ketika telah memicu ketegangan dan saling membenci antar kelompok masyarakat. Pemerintah dinilai perlu berperan sebagai pemersatu seluruh elemen masyarakat dan memastikan ruang dialog tetap terbuka bagi semua pihak.

Ketiga, masyarakat perlu memahami bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci atau memberikan stigma kepada pihak lain tanpa dasar yang jelas. Baik agama maupun budaya memiliki nilai dan hikmah yang perlu dipahami secara arif, bijaksana, dan saling menghormati.

Keempat, forum mendorong agar ruang-ruang dialog yang sehat, ilmiah, dan beradab terus diperluas sebagai sarana memperkuat persatuan masyarakat, memperkaya perspektif, serta menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman pandangan yang ada.

Puluhan peserta pemuda dari berbagai daerah Sulawesi Tengah hadir menghidupkan diskusi dengan berbagai insight baik dari pelaku budaya, tokoh pemuda hingga para Da’i.

Inisiator kegiatan, Opick Delian Alindra, menyampaikan bahwa Mimbar Cendekia dihadirkan sebagai wadah bertukar gagasan yang menjunjung tinggi tradisi intelektual, keterbukaan berpikir, dan penghormatan terhadap perbedaan.

“Forum ini tidak bertujuan mempertentangkan agama dan budaya. Justru yang ingin dibangun adalah ruang untuk menemukan titik temu, memperkuat saling pengertian, dan menghadirkan perspektif yang lebih utuh dalam melihat berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, para pelaksana berharap masyarakat Sulawesi Tengah semakin mengedepankan budaya diskusi, literasi, dan persaudaraan dalam menyikapi berbagai isu publik, sehingga perbedaan pandangan dapat menjadi sumber pembelajaran, bukan sumber perpecahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *