Berita Terkini

Tak Makan 13 Hari Demi Keluarganya, Kisah Pilu WN Filipina Terombang-ambing di Laut

×

Tak Makan 13 Hari Demi Keluarganya, Kisah Pilu WN Filipina Terombang-ambing di Laut

Sebarkan artikel ini
Banjir, Warga Negara Filipina. Foto: potretcelebes.com/Sukri

POTRETCELEBES, Palu – Seorang warga negara Filipina bernama Banjir menceritakan perjuangan hidupnya bersama 14 anggota keluarga yang terombang-ambing di lautan selama 13 hari sebelum akhirnya diselamatkan nelayan di perairan Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah.

Rombongan yang sebelumnya berjumlah 17 orang tersebut berlayar dari Malaysia menuju Filipina. Namun nahas, perahu yang mereka tumpangi mengalami kerusakan setelah menabrak kayu dan terbalik di tengah laut. Dalam kondisi darurat itu, Banjir memerintahkan dua pria dewasa untuk berenang menuju daratan Malaysia guna meminta bantuan.

“Arus membawa kami semakin jauh,” ujar Banjir saat memberikan keterangan di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Minggu (25/1/2026).

Di atas perahu tersebut terdapat 5 perempuan dewasa, 8 anak-anak, serta 1 balita berusia 6 bulan. Sementara dua pria dewasa yang berenang mencari bantuan dilaporkan selamat.

Selama hampir dua pekan terombang-ambing di laut lepas, mereka bertahan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Banjir mengaku hanya menemukan satu bungkus biskuit yang seluruhnya diberikan kepada anak-anak dan keluarganya.

“Satu biskuit dibelah dua untuk dua orang supaya semua bisa makan. Saya tidak makan. Air minum hanya dari air hujan. Kalau tidak hujan, tidak minum,” tuturnya.

Ia juga mengaku selama 13 hari hanya empat kali minum air dan tidak makan sama sekali. Dalam upaya mencari makanan, Banjir bahkan berenang menjauhi perahu ke arah tumpukan sampah di laut.

“Aku dapat satu kelapa, itu pun aku bagi ke semua. Aku tidak makan. Kalau mereka sehat, aku sehat. Kalau ada yang meninggal, aku juga ikut meninggal,” ucapnya dengan suara lirih.

Menurut pengakuan Banjir, mereka kerap bolak-balik Malaysia–Filipina untuk bekerja. Biasanya perjalanan tersebut hanya memakan waktu 4–5 jam. Keberangkatan kali ini dilakukan untuk menghadiri acara keluarga di Filipina.

“Sudah sering kami pulang-pergi, tapi baru kali ini kami mengalami musibah seperti ini,” katanya.

Saat ini, seluruh korban telah dievakuasi dan ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu untuk penanganan lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *