Lifestyle

Kasus Campak Melonjak, Sejumlah Daerah di Sulteng Tetapkan Status KLB

×

Kasus Campak Melonjak, Sejumlah Daerah di Sulteng Tetapkan Status KLB

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dok Website Puskesmas Sesela

POTRETCELEBES, Palu – Peningkatan kasus campak dalam waktu singkat memicu sejumlah daerah di Sulawesi Tengah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) sejak awal 2026.

Kondisi ini terjadi di tengah tren kenaikan kasus yang juga dilaporkan di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah hingga pekan ke-12 Maret 2026, Kota Palu mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 428 kasus.

Selain Kota Palu, status KLB juga telah ditetapkan di sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Morowali Utara. Penetapan ini dilakukan menyusul lonjakan kasus dalam periode yang relatif singkat di masing-masing wilayah.

Meski begitu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memastikan kondisi tersebut masih dalam kendali dan belum memenuhi kriteria penetapan KLB di tingkat provinsi.

Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, Ahsan, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta pemerintah kabupaten/kota dalam penanganan kasus.

“Untuk penanggulangan kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, khususnya di program imunisasi, dan kabupaten terkait dengan tata laksana penanggulangan KLB,” ujar Ahsan kepada Wartawan, Kamis (2/4/2026) kemarin.

Ia menjelaskan, peningkatan kasus di Kota Palu mendorong pemerintah untuk menyarankan pelaksanaan imunisasi respons wabah atau Outbreak Response Immunization (ORI).

“Untuk Kota Palu sendiri baru ditetapkan minggu kemarin, karena ada peningkatan kasus, disarankan untuk melakukan ORI dari usia 9 sampai 59 bulan,” jelasnya.

Menurut Ahsan, lonjakan kasus campak tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah, tetapi juga menjadi tren nasional di berbagai daerah di Indonesia. Tingginya mobilitas penduduk antarwilayah disebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran virus.

Selain itu, cakupan imunisasi yang belum merata turut menyebabkan kekebalan kelompok belum terbentuk secara optimal. Dalam lima tahun terakhir, Sulawesi Tengah belum mampu mencapai target 95 persen cakupan imunisasi secara menyeluruh.

“Ada beberapa kabupaten yang sudah mencapai target, tetapi di tingkat puskesmas belum merata,” ungkapnya.

Pemerintah daerah saat ini terus menggencarkan berbagai upaya penanggulangan, termasuk pelaksanaan imunisasi tambahan di sejumlah wilayah. Masyarakat pun diimbau untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, terutama pada kelompok usia rentan.

“Di usia lima tahun ke bawah yang rentan terhadap penyakit campak,” tambahnya.

Langkah ini diharapkan dapat menekan penyebaran kasus sekaligus mencegah meluasnya wabah campak di Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *