Pendidikan & Teknologi

Tak Hanya Belajar, Siswa Sekolah Rakyat Palu Juga Dibina Karakter dan Kedisiplinan

×

Tak Hanya Belajar, Siswa Sekolah Rakyat Palu Juga Dibina Karakter dan Kedisiplinan

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok Anita (Kepsek)

POTRETCELEBES, Palu – Program pendidikan berbasis asrama yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan sangat miskin terus diperkuat pemerintah melalui Sekolah Rakyat. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi Tadulako Nambasi 20 Palu, para siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan gratis, tetapi juga fasilitas tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan hingga kebutuhan pribadi yang seluruhnya ditanggung negara.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu, Anita, mengatakan sekolah yang dipimpinnya saat ini menaungi dua jenjang pendidikan sekaligus, yakni SMP dan SMA, dengan total delapan rombongan belajar dan 186 siswa.

“Untuk SMP ada tiga rombel, sedangkan SMA ada lima rombel. Jadi total ada delapan rombel dengan jumlah siswa 186 orang,” ujar Anita, Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, sekolah tersebut didukung 15 guru yang mengajar di dua jenjang pendidikan. Selain tenaga pendidik, sistem pendidikan di sekolah rakyat juga melibatkan wali asrama dan wali asuh yang mendampingi siswa di luar jam belajar formal.

“Guru berperan saat pembelajaran dari pukul 07.00 sampai 17.00. Setelah itu kegiatan diambil alih wali asrama dan wali asuh,” katanya.

Menurut Anita, wali asrama bertugas memastikan kehidupan asrama berjalan baik, sementara wali asuh mendampingi siswa secara lebih personal. Satu wali asuh mendampingi 10 siswa sesuai gender agar komunikasi dan keterbukaan lebih mudah terbangun.

Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu mulai menjalankan kegiatan belajar mengajar sejak Agustus 2025 atau tahun ajaran 2025-2026. Dengan konsep boarding school, sekolah tersebut menampung siswa dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah.

“Untuk jenjang SMA, kami mengakomodasi seluruh wilayah kabupaten di Sulawesi Tengah. Ada siswa dari Banggai Laut, Buol, Napu di Kabupaten Poso, hingga Kulawi Kabupaten Sigi,” jelasnya.

Berbeda dengan sekolah umum, penerimaan siswa di sekolah rakyat tidak menggunakan sistem pendaftaran, melainkan penjangkauan yang dilakukan Dinas Sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

Anita menyebutkan, syarat utama siswa sekolah rakyat berasal dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 atau kelompok miskin dan sangat miskin.

“Tujuan utamanya bagaimana mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan, sesuai Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025,” katanya.

Ia mengakui, sebagian siswa yang masuk memiliki latar belakang putus sekolah maupun persoalan sosial lainnya. Karena itu, tenaga pendidik dan pendamping dituntut bekerja ekstra membangun disiplin serta motivasi belajar siswa.

“Di awal memang butuh penyesuaian, karena anak-anak terbiasa bebas dan belum terikat aturan. Tapi perlahan mereka mulai memahami bahwa kedisiplinan bukan untuk mengekang, melainkan membangun kebersamaan dan tanggung jawab,” ujarnya.

Setiap malam, pihak sekolah juga menggelar kegiatan refleksi untuk mengevaluasi aktivitas harian siswa. Dari kegiatan itu, banyak siswa mengaku bersyukur bisa bersekolah di sekolah rakyat karena fasilitas yang diterima jauh lebih memadai.

Anita mencontohkan, setiap ruang belajar di sekolah rakyat telah dilengkapi papan interaktif digital, berbeda dengan sekolah reguler yang umumnya hanya memiliki satu perangkat untuk seluruh sekolah.

“Pemerintah benar-benar menyiapkan fasilitas agar anak-anak bisa belajar maksimal,” katanya.

Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu masih berstatus rintisan dan menggunakan gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) sebagai lokasi belajar sekaligus asrama siswa.

Namun ke depan, para siswa akan dipindahkan ke sekolah permanen yang rencananya dibangun di kawasan dekat Bundaran Soekarno-Hatta, samping kantor Kementerian PU. Proyek pembangunan sekolah permanen tersebut masih dalam tahap proses lelang.

Selain pendidikan formal, sekolah rakyat juga menyiapkan program vokasional dan pemetaan minat siswa sejak awal melalui asesmen.

“Dari asesmen itu kami petakan siswa yang ingin melanjutkan kuliah dan siswa yang akan masuk dunia kerja atau berwirausaha. Kami juga membangun jejaring dengan dunia industri,” jelas Anita.

Ia menegaskan, sekolah rakyat tidak hanya bertugas meluluskan siswa, tetapi juga memastikan mereka memiliki keterampilan dan kesiapan hidup setelah menyelesaikan pendidikan.

“Anak-anak ini bukan hanya titipan orang tua, tetapi juga titipan negara. Karena itu kami harus memastikan mereka mendapatkan pelayanan pendidikan terbaik dan bisa belajar dengan nyaman,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *