DaerahWisata & Budaya

Untad Hadirkan Batik Banava Goes to School untuk Lestarikan Budaya Sulawesi Tengah

×

Untad Hadirkan Batik Banava Goes to School untuk Lestarikan Budaya Sulawesi Tengah

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok Potretcelebes.com/Rahayu

POTRETCELEBES, Palu – Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Tadulako (Untad), yang didanai melalui skema BIMA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi, menggelar kegiatan “Batik Banava Goes to School: Inovasi Motif Batik Kearifan Lokal Sulawesi Tengah Berbasis Ilmu Komputasi untuk Pelestarian dan Edukasi Seni Budaya” di SD Negeri 15 Palu, Kamis (30/7/2026).

Program ini dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian, Kadek Hariana, dosen Program Studi PGSD Universitas Tadulako, bersama anggota tim Sisriawan Lapasere, Desrin Lebagi, dan Kadek Agus Dwiwijaya. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan mahasiswa Jurusan PGSD Universitas Tadulako.

Ketua panitia Ndaru Restu Utami menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian program yang diawali dengan pelatihan membatik di Sanggar Banava Nol Satu, Kabupaten Donggala. Setelah itu, program dilanjutkan melalui kegiatan Batik Banava Goes to School yang melibatkan siswa dari SD Negeri 15 Palu, SD Negeri 22 Palu, dan SDN Bumi Sagu. Rangkaian kegiatan nantinya akan ditutup dengan pameran hasil karya batik yang telah dibuat para peserta.

Dalam pelaksanaannya, para siswa diperkenalkan dengan teknik membatik menggunakan canting yang didampingi langsung oleh perajin batik. Melalui pendampingan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teknik dasar membatik, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif batik yang mengangkat kearifan lokal Sulawesi Tengah.

Ketua Tim Pengabdian, Kadek Hariana, mengatakan program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap mulai berkurangnya eksistensi seni batik di tingkat lokal. Menurutnya, inovasi diperlukan agar kesenian daerah dapat terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan salah satu kesenian tingkat lokal yang mulai tidak eksis. Kami mencoba menghadirkan konsep inovasi Batik Banava berbasis ilmu komputasi sebagai upaya pelestarian sekaligus edukasi seni budaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengembangan Batik Banava tidak hanya berorientasi pada aspek pemasaran, tetapi dimulai dari dunia pendidikan. Program tersebut menyasar siswa sekolah dasar sebagai tahap awal sebelum nantinya dilanjutkan ke SMK Negeri 1 Palu, khususnya Jurusan Tata Busana, hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Kadek menuturkan konsep yang dikembangkan mengusung pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM). Melalui pendekatan lintas disiplin ilmu tersebut, batik dipandang bukan sekadar produk seni, melainkan hasil kolaborasi berbagai bidang keilmuan yang mampu melahirkan inovasi baru.

“Kami ingin menghidupkan kembali pemahaman bahwa kesenian bukan hanya benda yang dinikmati. Kesenian harus dikembangkan secara utuh melalui inovasi dari berbagai bidang ilmu. Pendekatan STEAM inilah yang kami terapkan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan seni budaya. Menurutnya, tanpa dukungan berbagai bidang ilmu, perkembangan batik akan sulit mengikuti kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.

“Lintas ilmu tidak akan menghasilkan sesuatu apabila tidak berkolaborasi. Batik juga tidak akan berkembang jika tidak diinisiasi oleh berbagai bidang ilmu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *