Berita Terkini

KADIN Sulteng dan PW ISNU Bangun Ekosistem Ekonomi Pesantren

×

KADIN Sulteng dan PW ISNU Bangun Ekosistem Ekonomi Pesantren

Sebarkan artikel ini
Gufron Ahmad dan Sahran Raden Bahas Ekosistem Ekonomi Pesantren di Sulawesi Tengah di Kantor Kadin Provinsi Sulawesi Tengah. Foto: PW ISNU Sulteng

POTRETCELEBES, Palu – Penguatan ekonomi pesantren melalui pengembangan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu agenda strategis yang dibahas dalam pertemuan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Tengah Gufron Ahmad dengan Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Sulawesi Tengah Sahran Raden.

Pertemuan tersebut membahas potensi besar pesantren di Sulawesi Tengah untuk dikembangkan menjadi salah satu basis pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya melalui penguatan kewirausahaan santri dan pengembangan produk UMKM pesantren.

Menurut Sahran Raden, pesantren memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi daerah.

Pesantren tidak hanya memiliki santri dan alumni dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki jaringan masyarakat yang dapat menjadi basis produksi, distribusi sekaligus pasar.

“Pesantren harus kita dorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Santri harus memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan kerja dan membangun kemandirian,” ujar Sahran.

Dari Produk Pesantren Menuju Pasar yang lebih luas, Sahran mengatakan, salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana produk yang dihasilkan pesantren dapat naik kelas.

Menurutnya, pengembangan UMKM pesantren tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan modal. Diperlukan ekosistem yang mencakup pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, legalitas, sertifikasi, pengemasan, branding, digital marketing, akses pembiayaan dan perluasan pasar.

“Produk pesantren harus memiliki standar yang mampu bersaing. Kita ingin produk yang lahir dari pesantren tidak hanya dikonsumsi oleh komunitas pesantren, tetapi bisa masuk ke pasar lokal, nasional, bahkan memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar global,” katanya.

Sementara itu, Ketua KADIN Sulawesi Tengah Gufron Ahmad menyambut positif gagasan penguatan ekonomi pesantren tersebut.

Menurut Gufron, dunia usaha memiliki kepentingan untuk membangun jejaring dengan pesantren karena pesantren memiliki potensi sumber daya manusia dan basis komunitas yang besar.

“KADIN dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan potensi usaha pesantren dengan dunia usaha. Yang kita bangun bukan sekadar kegiatan jual beli, tetapi ekosistem agar produk pesantren dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Gufron.
Ia menilai, pengembangan UMKM pesantren dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain peningkatan kapasitas kewirausahaan, penguatan manajemen usaha, pengembangan kemitraan, akses pasar, serta pemanfaatan teknologi digital.
Santri tidak hanya menjadi konsumen, tetapi pelaku ekonomi.

Pertemuan Gufron Ahmad dan Sahran Raden juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam melihat posisi santri dalam pembangunan ekonomi.

Santri masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga perlu memiliki kompetensi kewirausahaan, literasi digital dan kemampuan mengelola usaha.
Karena itu, PW ISNU Sulawesi Tengah mendorong lahirnya santri entrepreneur sebagai salah satu bagian dari gerakan pemberdayaan pesantren.

Gagasan tersebut akan dikembangkan melalui Santri Future Festival 2026, yang akan diselenggarakan PW ISNU Sulawesi Tengah pada 22–25 Oktober 2026 di Palu, Sulawesi Tengah.

Festival tersebut mengangkat tema besar penguatan kapasitas santri dengan sejumlah agenda, yakni:
Santri Think berupa Dialog Pemberdayaan Pesantren.

Santri Digital Literasi, inovasi dan teknologi,
Santri Entrepreneur dan Pengembangan kewirausahaan santri. Ekspo Produk UMKM Pesantren,
Debat Kitab Kuning
Debat Fiqh/Bahtsul Masail.

Khusus Ekspo Produk UMKM Pesantren, PW ISNU Sulteng akan menjadikannya sebagai ruang untuk memperkenalkan dan mempertemukan produk-produk pesantren dengan masyarakat, dunia usaha dan berbagai jejaring potensial.
Membangun ekosistem, bukan sekadar event, Sahran menegaskan bahwa Santri Future Festival tidak diarahkan sekadar menjadi kegiatan seremonial. Festival tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem kewirausahaan pesantren secara berkelanjutan.

“Festival ini adalah momentum untuk memetakan potensi ekonomi pesantren. Setelah itu harus ada tindak lanjut berupa pendampingan, inkubasi usaha, akses pasar dan kemitraan. Jadi kita tidak berhenti pada expo, tetapi membangun ekosistem,” jelas Sahran.

Dalam kerangka tersebut, PW ISNU Sulteng membuka peluang kolaborasi dengan KADIN, pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas ekonomi kreatif dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan model pengembangan ekonomi pesantren yang sesuai dengan karakteristik Sulawesi Tengah.

Gufron Ahmad dan Sahran Raden memiliki perhatian yang sama bahwa pengembangan ekonomi pesantren harus berorientasi pada keberlanjutan.
Pesantren diharapkan mampu mengembangkan unit-unit usaha produktif yang dikelola secara profesional dan melibatkan santri sebagai bagian dari proses pembelajaran kewirausahaan.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kapasitas keagamaan, tetapi juga generasi yang mampu menciptakan inovasi, mengembangkan usaha dan membuka lapangan pekerjaan.

“Santri masa depan harus mampu membaca kitab sekaligus membaca perubahan zaman. Menguasai ilmu agama, teknologi dan kewirausahaan. Dari pesantren kita ingin lahir generasi yang berilmu, berdaya dan berkarya,” kata Sahran.
Pertemuan KADIN Sulteng dan PW ISNU Sulteng tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun konektivitas antara pesantren, santri, dunia usaha dan ekonomi daerah.
Dari ruang pendidikan pesantren, diharapkan lahir produk-produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi, sekaligus generasi santri yang mampu menjadi pelaku utama pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *