Daerah

Prof Zainal Abidin Sentil Pemicu Konflik Sosial: Bukan Soal Agama, Tapi Manusia yang Lebih Cintai Tafsir Daripada Kebenaran

×

Prof Zainal Abidin Sentil Pemicu Konflik Sosial: Bukan Soal Agama, Tapi Manusia yang Lebih Cintai Tafsir Daripada Kebenaran

Sebarkan artikel ini
Ketua FKUB Sulteng, Prof Zainal Abidin. Foto: potretcelebes.com/Sukri

POTRETCELEBES, Palu – Berbagai gejolak dan gesekan sosial di tengah masyarakat selama ini sering kali langsung dicap sebagai perselisihan antaragama.

Padahal, jika diurai lebih detil, akar persoalan sesungguhnya bukan terletak pada perbedaan keyakinan yang dianut masyarakat.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., menyoroti fenomena fanatisme kelompok yang kerap mengaburkan substansi ajaran agama itu sendiri.

“Konflik terbesar ternyata bukanlah antar agama yang satu dengan agama lain. Konflik terbesar ketika manusia lebih mencintai tafsirnya daripada kebenaran. Lebih mencintai identitas kelompoknya daripada sesama manusia. Saat itulah agama berubah dari cahaya menjadi senjata,” sebut Prof Zainal Abidin.

Menurut Guru Besar Pemikiran Islam Modern ini, fenomena salah kaprah tersebut kerap dipicu oleh sikap seorang atau sekelompok orang yang terjebak dalam fanatisme buta.

Seseorang yang terlanjur mengagungkan tafsir tunggal cenderung merasa memegang hak prerogatif atas kebenaran, lalu mengesampingkan nilai kemanusiaan.

Ketika ego pribadi dan kelompok sudah terlanjur mendominasi, ajaran agama yang sejatinya berfungsi sebagai cahaya penerang serta alat pemersatu justru bergeser menjadi instrumen untuk melukai pihak lain.

Kondisi inilah yang dinilai merusak tatanan kerukunan di tengah masyarakat yang heterogen.

Saat ego kelompok ditempatkan lebih tinggi daripada persaudaraan sesama manusia, rasa empati pelan-pelan terkikis dan tersisa hanya dorongan untuk menyingkirkan kelompok yang berseberangan.

Prof Zainal menegaskan, pada dasarnya tidak ada satu pun ajaran agama yang menuntun pemeluknya untuk menanam kebencian.

Fenomena ketegangan selama ini murni bersumber dari perilaku oknum manusia yang sengaja membelokkan kesucian ajaran agama demi memuaskan syahwat kekuasaan maupun kebanggaan kelompoknya semata.

“Saya kira prinsip semua ajaran agama sama. Mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kebaikan. Sehingga jika ada seseorang atau kelompok yang meninggalkan prinsip itu, maka itu tidak bersumber dari ajaran agama, tetapi cara pandang yang keliru dalam memahami ajaran agama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *