Berita Terkini

WALHI: Banjir Palu Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem, Tapi Akibat Krisis Ekologis

×

WALHI: Banjir Palu Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem, Tapi Akibat Krisis Ekologis

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok BPBD Sulteng

POTRETCELEBES, Palu — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah menyatakan bahwa banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Palu bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem atau hujan deras.

Dalam pernyataan resminya, WALHI menegaskan bahwa bencana tersebut merupakan dampak dari kerusakan lingkungan yang bersifat sistemik, khususnya di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) yang telah mengalami pembukaan lahan secara masif untuk aktivitas pertambangan emas.

“Kerusakan di bagian hulu telah menyebabkan hilangnya fungsi resapan dan penyangga air. Akibatnya, air hujan yang seharusnya terserap di wilayah hulu langsung mengalir deras ke hilir, membawa lumpur, potongan kayu, dan material lainnya hingga masuk ke rumah-rumah warga,” kata Manager Kampanye WALHI Sulawesi Tengah, Wandi dalam rilis resminya, Jumat (25/4/2025).

Menurut Wandi, banjir di Kota Palu saat ini bukan lagi peristiwa insidental, melainkan telah menjadi bencana langganan yang menunjukkan adanya krisis ekologis yang terus berulang. Kondisi ini, kata Wandi, mencerminkan lemahnya tata kelola lingkungan serta adanya pembiaran terhadap aktivitas ekstraktif yang merusak kawasan hulu DAS.

Sebagai bentuk tanggapan atas kondisi tersebut, WALHI Sulawesi Tengah mendesak Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Palu untuk segera mengevaluasi seluruh izin pertambangan di wilayah hulu serta mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas yang terbukti merusak lingkungan.

Selain itu, WALHI juga menuntut penegakan hukum terhadap para pelaku perusakan lingkungan yang telah menyebabkan bencana ekologis bagi masyarakat. Tak hanya itu, organisasi lingkungan ini juga mendorong penyusunan kebijakan pemulihan ekologis yang partisipatif serta memperkuat daya dukung lingkungan, baik di wilayah hulu maupun hilir.

“Kami mengajak seluruh masyarakat sipil, akademisi, dan media untuk turut mengawal isu ini. Jangan biarkan Kota Palu terus menjadi korban dari krisis lingkungan yang dibiarkan tanpa solusi,” pungkas Wandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *