Berita TerkiniDaerah

Empat Pesan Strategis Menko AHY untuk Tata Ruang Pulau Sulawesi

×

Empat Pesan Strategis Menko AHY untuk Tata Ruang Pulau Sulawesi

Sebarkan artikel ini
Menko AHY saat jumpa pers di Palu. Foto: Dok potretcelebes.com/Sukri

POTRETCELEBES, Palu — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY), menyampaikan empat pesan strategis dalam Forum Koordinasi Pembangunan Wilayah Berbasis Penataan Ruang Pulau Sulawesi yang digelar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (10/7/2025).

Forum ini dihadiri oleh Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, para kepala daerah dari seluruh wilayah Sulawesi dan Papua Barat Daya, serta pemangku kepentingan pembangunan lainnya.

Dalam sambutannya, Menko AHY menekankan bahwa penataan ruang dan pengelolaan lahan merupakan fondasi utama dalam perencanaan pembangunan nasional. Ia mengungkapkan refleksinya setelah menjalani tugas sebagai Menteri ATR/BPN selama delapan bulan di pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Saya bersyukur walaupun hanya delapan bulan mendapatkan amanah sebagai menteri ATR BPN di pemerintahan terdahulu yaitu pemerintahan bapak presiden Joko Widodo. Cukup rasanya bagi saya untuk mengetahui dan semakin menyadari bahwa memang urusan tanah dan tata ruang itu benar-benar sangat mendasar. Kita tidak bisa memungkiri bahwa kalau tanahnya tidak jelas saya rasa kita sulit untuk melakukan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan,” kata AHY.

Ia menekankan pentingnya tata kelola ruang yang baik untuk menghindari tumpang tindih kepentingan, konflik lahan, hingga kerusakan lingkungan. Menurutnya, sumber daya alam yang dimiliki Indonesia adalah modal besar yang harus dimanfaatkan secara bijak, bukan hanya untuk kesejahteraan, tetapi juga untuk kelestarian lingkungan dan generasi masa depan.

“Jangan sampai kita menyesal ketika sudah tidak bisa lagi kita perbaiki, ketika lingkungan rusak, ketika kita tidak bertanggung jawab pada alam kita sama saja kita membiarkan generasi penerus anak cucu kita menderita dan tidak bisa memiliki masa depan yang baik. Ini tugas dan tanggungjawab kita semuanya, tugas para pemimpin-pemimpin politik para pejabat eksekutif termasuk para wakil rakyat,” tegas AHY.

“Disini tidak melihat darimana kita berasal, tidak melihat identitas, tidak melihat pilihan politik kita, satu suara satu tujuan agar Sulawesi dan Indonesia semakin maju sejahtera dan berkelanjutan pembangunannya,” tambahnya.

Empat Pesan Penting Menko AHY

Dalam forum tersebut, Menko AHY menyampaikan empat poin penting sebagai pedoman dalam pembangunan wilayah berbasis tata ruang:

  1. Penyelarasan RPJMD dengan RPJMN secara spasial.
    Penyusunan dokumen perencanaan daerah harus sejalan secara spasial dengan kebijakan nasional agar arah pembangunan tidak tumpang tindih.
  2. Percepatan legalisasi RDTR dan pemanfaatan OSS berbasis spasial.
    RDTR yang telah sah akan menjadi alat penting dalam memberikan kepastian hukum, terutama dalam perizinan investasi melalui sistem OSS.
  3. Integrasi data sektoral dalam satu basis data geospasial.
    AHY mendorong integrasi data lintas sektor dalam satu platform geospasial yang dapat diakses bersama, untuk mendukung perencanaan berbasis bukti.
  4. Kawal pembangunan wilayah dengan memperhatikan aspek kebencanaan dan lingkungan.
    Seluruh program pembangunan, menurutnya, harus mempertimbangkan daya tahan terhadap bencana, perubahan iklim, serta daya dukung lingkungan.

Menko AHY juga menggarisbawahi pentingnya membangun wilayah Sulawesi sebagai model pembangunan nasional yang resilien dan berkelanjutan. Ia menyebut Sulawesi memiliki potensi besar sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor pangan, energi, air, dan hilirisasi industri.

“Kalau ini kita bisa sukseskan bersama, maka semangat bapak presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan, swasembada energi, termasuk melakukan hilirisasi termasuk juga swasembada air dan sekaligus kita meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

AHY mengajak semua pihak, baik di pusat maupun daerah, untuk terus mengedepankan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap bencana.

“Kita harus menata ruang dengan bijak, agar pembangunan infrastruktur tidak merusak, tetapi justru menjaga keberlangsungan lingkungan hidup,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *