Berita TerkiniOpini

Antara Nuklir, Hegemoni, dan Kepentingan Global: Dampak Konflik Israel dan Amerika terhadap Iran bagi Ekonomi Indonesia

×

Antara Nuklir, Hegemoni, dan Kepentingan Global: Dampak Konflik Israel dan Amerika terhadap Iran bagi Ekonomi Indonesia

Sebarkan artikel ini
Muh Erwinsyah, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako (Untad).

Oleh: Muh Erwinsyah, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako (Untad)

POTRETCELEBES – Konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat bukan sekadar perang biasa. Di balik isu nuklir dan keamanan regional, terdapat pertarungan kepentingan global terutama pengaruh geopolitik dan kontrol terhadap energi dunia.

Awal perang besar ini dimulai pada akhir Februari 2026, ketika serangan udara gabungan AS dan Israel menargetkan fasilitas militer serta kepemimpinan tertinggi Iran. Serangan itu bahkan menewaskan Supreme Leader Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi simbol paling penting rezim Iran, sehingga meningkatkan ketegangan yang sudah tinggi di kawasan.

Selat Hormuz dan Risiko Gangguan Pasokan Energi

Selat Hormuz adalah jalur laut yang sangat penting karena memfasilitasi hampir 20% pasokan minyak dan gas dunia. Dalam respons keras terhadap serangan, Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz, mengancam akan menembaki kapal yang melewati jalur tersebut. Pernyataan itu langsung menimbulkan kekhawatiran pasar energi global karena gangguan di rute ini bisa menghentikan ekspor minyak utama dari Timur Tengah.

Penutupan jalur ini berpotensi meningkatkan biaya pengiriman minyak dan gas, menaikkan premi asuransi kapal, serta mendorong perusahaan besar menghindari rute tersebut bahkan memaksa rute panjang di sekitar Afrika. Dampaknya adalah kenaikan harga minyak global dan meningkatnya biaya transportasi internasional.

Mengapa Ini Penting Secara Ekonomi?

Kenaikan harga minyak dan gas dunia berdampak langsung ke ekonomi Indonesia dalam berbagai aspek: Harga BBM dan Inflasi Karena Indonesia masih mengimpor sebagian energi, lonjakan harga minyak dunia akan mendorong harga BBM serta bahan bakar lainnya lebih tinggi. Ini berpotensi mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.

Tekanan terhadap Anggaran Negara
Pemerintah harus memutuskan antara menaikkan harga BBM atau menambah subsidi untuk menahan harga di dalam negeri. Pilihan apa pun dapat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Nilai Tukar Rupiah

Ketidakpastian global biasanya membuat investor mencari aset aman seperti dolar AS. Hal ini dapat menekan rupiah, sehingga impor menjadi lebih mahal dan tekanan inflasi kian meningkat.

Peluang Komoditas Ekspor

Di sisi lain, jika harga energi dan komoditas naik, ekspor Indonesia seperti batu bara dan gas alam cair (LNG) bisa mendapatkan keuntungan tambahan. Namun peluang tersebut tetap diimbangi risiko ketidakpastian global.

Gejolak Pasar dan Ketidakpastian Global

Selain energi, perang ini juga memengaruhi pasar finansial global. Ketika konflik meningkat, harga minyak dan gas melonjak, indeks saham global cenderung turun, dan nilai tukar berbagai mata uang negara berkembang melemah akibat investor mencari aset yang lebih aman. Ketidakpastian semacam ini bisa memperlambat arus investasi ke Indonesia serta menekan pertumbuhan ekonomi domestik.

Dampak Tidak Langsung: Perdagangan Internasional

Gangguan di Selat Hormuz juga berarti terhambatnya rute perdagangan utama dunia. Jika kapal minyak, bahan bakar, dan komoditas lainnya terhambat, biaya logistik global meningkat, yang pada akhirnya membuat harga barang dan jasa di pasar Indonesia ikut terdorong naik.

Prediksi Eskalasi: Ke Mana Arah Perang Iran?

Secara geopolitik dan ekonomi politik, terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  1. Perang Terbatas (Limited War)
    Iran kemungkinan memilih strategi serangan terbatas melalui rudal jarak jauh, drone, dan proxy regional seperti kelompok milisi di Timur Tengah. Tujuannya menjaga daya tawar tanpa memicu perang total dengan AS.
  2. Perang Proksi Regional Konflik bisa meluas ke Lebanon, Suriah, atau Teluk Persia melalui aktor-aktor non-negara. Ini skenario yang paling realistis karena memberi ruang eskalasi tanpa konfrontasi langsung skala penuh.
  3. Perang Terbuka Skala Besar
    Jika serangan langsung terhadap wilayah utama Iran terus berlanjut, bukan tidak mungkin terjadi perang terbuka antara Iran dan koalisi AS dan Israel. Namun skenario ini berisiko tinggi terhadap stabilitas global dan ekonomi dunia.
  4. Tekanan Diplomatik dan Gencatan Senjata Tekanan internasional dari negara-negara besar seperti Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa dapat mendorong jalur diplomasi guna mencegah kehancuran ekonomi global yang lebih luas. Dari perspektif geoekonomi, Iran memiliki “senjata ekonomi” berupa ancaman terhadap jalur energi global. Namun penggunaan instrumen ini secara penuh juga berisiko merugikan Iran sendiri.

Konflik Israel dan Amerika terhadap Iran menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya berbentuk militer, tetapi juga ekonomi. Energi menjadi pusat pertarungan, dan negara-negara seperti Indonesia ikut merasakan dampaknya meski tidak terlibat langsung.

Bagi Indonesia, tantangan utama adalah menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan energi nasional, serta mempercepat transisi menuju sumber energi alternatif guna mengurangi ketergantungan impor.

Dalam dunia yang saling terhubung, perang di Timur Tengah bukan lagi isu jauh ia bisa berdampak langsung pada inflasi, nilai tukar, dan akar rumput sampai dapur rumah tangga masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *