Daerah

Prof Zainal Abidin: Bedakan Contoh dan Ajaran Nabi, Mana yang Harus Kita Ikuti?

×

Prof Zainal Abidin: Bedakan Contoh dan Ajaran Nabi, Mana yang Harus Kita Ikuti?

Sebarkan artikel ini
Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin

POTRETCELEBES, Palu – Ketua MUI Kota Palu, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, memberikan pencerahan penting mengenai metodologi meneladani Rasulullah SAW di era modern.

Dalam quotesnya, Prof. Zainal menekankan pentingnya umat Islam membedakan antara contoh dari Nabi yang bersifat situasional dan ajaran Nabi yang bersifat universal.

“Kita tidak hanya mengikuti contoh dari Nabi, tetapi harus mengikuti ajaran Nabi. Ajarannya bersifat universal, sementara contoh Nabi ada yang tidak dapat kita ikuti,” tegas Rais Syuriyah PBNU tersebut.

Prof. Zainal menjelaskan bahwa setiap tindakan atau contoh yang Nabi perlihatkan selalu membawa pesan mendalam atau ajaran yang harus diikuti.

Contoh dari Nabi ini terkadang tidak dapat diikuti karena bersifat situasional. Sedangkan yang penting untuk diikuti umatnya ialah ajaran yang terkandung di balik contoh yang nabi perlihatkan itu.

Ia mencontohkan dalam sebuah riwayat saat Nabi melewati pemakaman dan mengetahui ada penghuni kubur yang tengah disiksa.

Rasulullah kemudian mengambil pelepah kurma basah dan menancapkannya di atas kuburan tersebut.

Saat itu, Nabi bersabda bahwa semoga azab penghuni kubur diringankan selama pelepah tersebut masih hijau atau basah.

“Secara fisik, contoh yang Nabi lakukan adalah menancapkan pelepah kurma. Namun, yang paling esensial adalah ajaran yang ingin disampaikan, yakni perintah bagi kita yang masih hidup untuk mendoakan penghuni kubur agar diringankan bebannya. Itulah nilai universalnya,” jelas Prof. Zainal.

Lebih lanjut, Ketua FKUB Sulawesi Tengah ini memaparkan contoh lain terkait praktik penerapan ajaran Nabi di era sekarang.

Pada zaman Nabi, unta-unta yang berkeliaran tidak diamankan karena kondisi keamanan yang terjamin dan pemiliknya mudah dikenali.

Namun, pada masa Khalifah Usman bin Affan, kebijakan tersebut berubah. Unta-unta liar justeru ditangkap dan diamankan karena banyaknya pencuri.

“Di sini kita melihat perbedaan antara ‘contoh’ dan ‘ajaran’. Nabi memberi contoh membiarkan unta karena situasi aman. Namun, ajarannya adalah tentang menjaga keamanan harta benda. Usman bin Affan mengikuti ajaran tersebut dengan cara yang berbeda karena tantangan zamannya pun berbeda,” ulasnya.

Prof. Zainal mengajak umat untuk tidak terjebak pada simbol-simbol lahiriah semata, melainkan harus mampu menggali inti sari dari setiap tindakan Rasulullah.

Menurutnya, mengikuti ajaran Nabi yang bersifat abadi akan membuat Islam selalu relevan dalam menjawab tantangan zaman dan membawa manfaat bagi sesama.

“Ajarannya bersifat universal, yaitu menjaga ketertiban dan hak orang lain. Sementara contoh pelaksanaannya bersifat adaptif mengikuti kondisi sosial,” jelas tokoh intelektual Islam ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *