Berita Terkini

26 Jam Bertahan di Laut, Wisatawan Belgia Kisahkan Detik-Detik Speed Boat Tenggelam di Teluk Tomini

×

26 Jam Bertahan di Laut, Wisatawan Belgia Kisahkan Detik-Detik Speed Boat Tenggelam di Teluk Tomini

Sebarkan artikel ini
Wisatawan mancanegara asal Belgia, Rani, membagikan kesaksiannya mengenai detik-detik tenggelamnya speed boat. Foto: Dok Tangkapan Layar

POTRETCELEBES, Touna – Wisatawan mancanegara asal Belgia, Rani, membagikan kesaksiannya mengenai detik-detik tenggelamnya speed boat yang ia tumpangi bersama 10 wisatawan mancanegara lainnya di perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.

Rani yang merupakan seorang travel blogger, kreator konten perjalanan, serta pecinta alam dan laut itu menjadi salah satu dari 13 penumpang yang berhasil selamat setelah terombang-ambing di laut selama lebih dari satu hari.

Baca Juga: Speed Boat Wisata Angkut 13 Penumpang Hilang Kontak di Perairan Teluk Tomini

Sebelumnya, speed boat yang mengangkut 11 wisatawan mancanegara, satu warga lokal, dan dua anak buah kapal (ABK) dilaporkan hilang kontak usai bertolak dari Pulau Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una, menuju Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, pada Jumat (24/7/2026) pagi.

Sehari kemudian, Sabtu (25/7/2026), para penumpang berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh tim pencari dari salah satu resort di Pulau Una-Una. Seluruh korban yang ditemukan selamat kemudian dievakuasi ke pulau tersebut.

Meski demikian, nahkoda speed boat, Ferdiansyah yang akrab disapa Kapten Un, hingga kini masih dinyatakan hilang. Tim SAR masih terus melakukan pencarian terhadap korban.

Menceritakan kronologi kejadian, Rani mengatakan perjalanan berlangsung normal saat kapal meninggalkan Pulau Una-Una sekitar pukul 07.30 Wita. Namun, kondisi cuaca di tengah perjalanan berubah drastis.

“Kami sedang dalam perjalanan dari Una Una ke Marisa sekitar pukul 07.30. Kapal dihantam ombak cukup besar. Pada satu titik, mesin mati dan air mulai masuk dalam jumlah banyak ke dalam kapal,” ujar Rani.

Baca Juga: Bupati Touna Turun Langsung Pimpin Evakuasi Wisatawan Asing Korban Speed Boat Tenggelam

Menurutnya, speed boat tenggelam sekitar pukul 11.00 Wita.

Setelah kapal tenggelam, seluruh penumpang berjuang mempertahankan hidup di tengah ganasnya ombak Teluk Tomini selama sekitar 26 jam.

“Kami bertahan di dalam air selama 26 jam. Kami berusaha untuk tetap bersama dengan saling mengikatkan diri menggunakan tali. Di tengah malam, kami melihat kapal nelayan dan berusaha berenang serta menarik perhatian mereka dengan senter, berteriak, dan sebagainya. Kapten Un mengenakan sirip renang dan (life jaket), jadi dia mencoba berenang menuju kapal itu untuk mencari bantuan. Begitulah cara dia terpisah dari kelompok kami. Kami tidak melihatnya kembali,” tuturnya.

Rani menggambarkan malam yang mereka lalui sebagai pengalaman yang sangat mengerikan. Ombak tinggi terus menghantam, membuat mereka tidak dapat beristirahat. Mereka juga tidak memiliki persediaan air minum dan harus menahan dingin sepanjang malam.

“Suasana malam hari sangat mengerikan. Ombak begitu tinggi hingga kami tidak bisa tidur. Kami tidak punya air dan merasa sangat kedinginan. Kami menghitung jam hingga matahari terbit dengan harapan mereka akan mulai mencari kami.”

Harapan itu sempat memudar ketika hingga sekitar pukul 10.00 keesokan harinya mereka belum melihat adanya helikopter maupun drone pencarian.

Baca Juga: WNA Korban Speed Boat Tenggelam Dievakuasi ke Ampana

“Sekitar pukul 10, kami tidak melihat helikopter maupun drone, jadi kami pun kehilangan harapan,” katanya.

Di tengah perjuangan bertahan hidup, Rani juga harus kehilangan seluruh perlengkapan kerjanya. Selama hampir 25 jam ia tetap membawa ransel berwarna hitam yang berisi kamera dan perlengkapan dokumentasi untuk pekerjaannya sebagai travel blogger.

Namun, saat kelompok korban terpisah menjadi dua karena perbedaan kemampuan berenang, ia terpaksa meninggalkan ransel tersebut agar dapat bertahan.

“Saya terus membawa ransel saya selama 25 jam karena di dalamnya terdapat semua barang penting untuk blog dan pekerjaan saya. Kelompok kami terpisah karena enam orang berenang lebih cepat, sehingga saya meninggalkan ransel tersebut. Mereka berhasil diselamatkan lebih dulu, dan satu jam kemudian giliran kami yang diselamatkan. Namun, ransel saya hilang.”

Ransel hitam tersebut berisi seluruh perlengkapan kamera yang menjadi alat utama pekerjaannya sebagai kreator konten perjalanan.

“Saya kehilangan ransel hitam yang berisi semua perlengkapan kamera saya. Saya seorang travel blogger, jadi barang-barang itu sangat penting bagi pekerjaan saya. Saya berharap ransel tersebut bisa terdampar ke pantai. Mungkin ada orang yang menemukannya atau bisa ikut mencarinya,” ungkap Rani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *