Daerah

Jadi Pembicara Hari Santri di Morowali Utara: Prof Zainal Abidin Sebut Pesantren Punya 6 Resep Jaga Kerukunan

×

Jadi Pembicara Hari Santri di Morowali Utara: Prof Zainal Abidin Sebut Pesantren Punya 6 Resep Jaga Kerukunan

Sebarkan artikel ini
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin saat membacakan khutbah Idul Adha di halaman Polda Sulteng. Aset: Istimewa

POTRETCELEBES, Palu – Kehadiran kawasan industri dan pesatnya laju pembangunan di Kabupaten Morowali Utara menjadikan wilayah ini sebagai salah satu percontohan daerah dengan tingkat kemajemukan sosial yang sangat tinggi.

Bertemunya penduduk lokal, warga pendatang, hingga para pekerja dari berbagai penjuru daerah dengan latar belakang suku dan keyakinan yang beragam menuntut tata kelola kerukunan yang matang.

Membaca dinamika tersebut, Rais Syuriyah PBNU sekaligus Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., membagikan pandangannya saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan Hari Santri Nasional yang diinisiasi oleh Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Morowali Utara.

Mengangkat materi bertajuk “Santri, Toleransi dan Harmoni Sosial: Merawat Kebhinekaan dari Pesantren”, Prof Zainal mengajak seluruh peserta untuk meresapi kembali spirit Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dari KH. Hasyim Asy’ari.

“Peringatan Hari Santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang menegaskan bahwa mempertahankan Indonesia adalah kewajiban agama dan kewajiban bangsa. Jika dahulu musuh nyata adalah penjajah, kini bentuk ancamannya bergeser. Di masa sekarang, tantangan yang dihadapi ialah perpecahan, kebencian, dan hoaks,” ungkap Prof Zainal Abidin.

Prof Zainal mengingatkan bahwa Indonesia pada hakikatnya adalah rumah besar bersama. Keberagaman yang tumbuh di tengah masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Morowali Utara, merupakan keniscayaan takdir yang harus disyukuri.

“Kita di Morowali Utara ini saya kira masyarakat yang sangat majemuk. Ada penduduk asli, pendatang, pekerja dengan agama dan budaya berbeda bertemu dan berinteraksi setiap saat. Kemajemukan ini adalah sunnatullah. Bukan ancaman. Yang menentukan adalah cara kita mengelolanya,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Zainal merincikan enam pilar ajaran tradisi pesantren yang menjadi kunci sukses dalam merawat iklim kerukunan sosial di tengah pluralitas.

Keenam pilar tersebut meliputi tawassuth (moderat), tawazun (seimbang antara akal dan wahyu serta dunia dan akhirat), i’tidal (berbuat adil kepada siapa saja), tasamuh (toleran menghargai perbedaan tanpa mengorbankan akidah), ta’awun (gotong royong untuk kemaslahatan umum), serta akhlakul karimah (kesantunan dalam berucap, bertindak, maupun bermedia sosial).

Melalui pilar-pilar keilmuan pesantren tersebut, Tokoh Moderasi Beragama ini menaruh harapan besar agar para santri mampu mengambil peran nyata sebagai benteng kebinekaan dan pelayan masyarakat tanpa sekat.

“Dalam mengambil peran menjaga kerukunan dan harmoni sosial, santri perlu menjadi teladan. Menunjukkan Islam yang ramah di mana pun ia berada. Santri juga menjadi duta damai, menenangkan saat muncul gesekan. Kemudian menjadi pelaku literasi digital. Memberi contoh untuk senantiasa tabayyun setiap mendapatkan informasi. Santri juga perlu menjadi penggerak dialog di kalangan pemuda dan tokoh lintas agama, serta menjadi pelayan masyarakat, hadir dalam kegiatan-kegiatan sosial serta kepedulian terhadap sesama, termasuk dengan lintas agama,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *