Berita Terkini

Ini Cara CIKASDA Ubah Irigasi Jadi Sumber Penghasilan Warga

×

Ini Cara CIKASDA Ubah Irigasi Jadi Sumber Penghasilan Warga

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (CIKASDA) Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Ruly Djanggola. Foto: PotretCelebes.com/Sukri

POTRETCELEBES, Palu – Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (CIKASDA) Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Ruly Djanggola, memaparkan berbagai capaian kinerja instansinya sepanjang periode 2025 hingga 2026 dalam konferensi pers yang digelar di Aula Kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu, Selasa (14/4/2026) sore.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah, yang diisi dengan pemaparan capaian pembangunan oleh sejumlah perangkat daerah.

Dalam pemaparannya, Andi Ruly menyampaikan bahwa salah satu capaian utama CIKASDA pada tahun 2025 adalah penyelesaian pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat. Proyek tersebut telah diresmikan dan kini sudah dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Masjid Raya Baitul Khairaat menjadi salah satu tugas prioritas kami di tahun 2025. Saat ini sudah digunakan, dan hingga September 2026 masih dalam tahap pemeliharaan oleh CIKASDA,” ujarnya.

Selain itu, CIKASDA juga mendorong inovasi di sektor pengelolaan irigasi melalui penerapan Indeks Kinerja Sistem Irigasi (IKSI). Dinas tersebut diketahui bertanggung jawab atas 30 daerah irigasi kewenangan provinsi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah.

Tak hanya fokus pada infrastruktur, CIKASDA juga mengembangkan program berbasis sosial melalui inovasi “Padungku” atau Padat Karya untuk Kemiskinan Ekstrem. Program ini merupakan transformasi dari pola pemeliharaan jaringan irigasi yang sebelumnya dikerjakan oleh kelompok tani, menjadi melibatkan masyarakat miskin ekstrem.

Program tersebut dijalankan dengan menggandeng Universitas Tadulako untuk melakukan identifikasi masyarakat miskin ekstrem, khususnya yang berada pada desil 1, agar dapat terlibat dalam kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi seperti penggalian sedimen dan pembersihan lumpur.

“Sejak 2025 hingga 2026, kami telah mengintervensi sekitar 168 masyarakat miskin ekstrem untuk terlibat dalam kegiatan ini,” jelasnya.

Melalui skema padat karya tersebut, para peserta mendapatkan penghasilan tambahan sekitar Rp650 ribu per bulan. Diharapkan, intervensi ini mampu membantu mereka keluar dari kategori kemiskinan ekstrem.

“Tujuannya agar mereka memperoleh tambahan pendapatan dan secara bertahap tidak lagi masuk dalam daftar masyarakat miskin ekstrem,” tambahnya.

Lebih lanjut, CIKASDA juga menginisiasi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik sebagai bagian dari upaya kolaboratif dengan dunia pendidikan. Program ini dinilai memberikan dampak ganda, yakni membantu penanggulangan kemiskinan ekstrem sekaligus mendukung mahasiswa dalam menyelesaikan kewajiban akademik.

“Program KKN tematik ini menjadi salah satu upaya kami untuk menghadirkan solusi yang terintegrasi, tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi mahasiswa,” pungkas Andi Ruly.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *