Daerah

Bahas Keragaman Tafsir di Era Digital, Prof Zainal Abidin Tegaskan Pentingnya Literasi Keagamaan yang Utuh

×

Bahas Keragaman Tafsir di Era Digital, Prof Zainal Abidin Tegaskan Pentingnya Literasi Keagamaan yang Utuh

Sebarkan artikel ini
Prof. Zainal Abidin. Foto: Dok Istimewa

POTRETCELEBES, Palu – Di tengah masifnya arus informasi digital yang kerap mendangkalkan pemahaman agama akibat pemotongan ayat secara sepihak, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag hadir menegaskan pentingnya literasi keagamaan yang utuh, kritis, dan moderat.

Ketua MUI Kota Palu sekaligus Rais Syuriyah PBNU tersebut mengingatkan bahwa Al-Qur’an dan pemahaman manusia terhadap teks suci adalah dua entitas yang berbeda.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diinisiasi oleh Program Studi Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Datokarama Palu di Kantor MUI Kota Palu.

“Islam dan pemahaman tentang Islam adalah dua hal yang berbeda. Islam bersumber dari Allah SWT. Sementara pemahaman tentang Islam bersumber dari manusia. Menghargai dan menghormati perbedaan menjadi solusinya,” tegas Prof. Zainal Abidin dalam materinya, beberapa waktu lalu.

Menurut Guru Besar UIN Datokarama Palu ini, era digital menghadirkan tantangan tersendiri di mana siapa pun dapat berbicara, mengakses terjemahan instan, hingga menyebarkan konten tafsir tanpa landasan metodologis yang memadai.

Kondisi ini sering kali memicu kebingungan di tengah masyarakat akibat munculnya penafsiran yang keliru, tema-tema provokatif, hingga pemotongan ayat tanpa konteks utuh yang berpotensi memecah belah persatuan.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa penafsiran agama tidak boleh dilepaskan dari perangkat keilmuan yang sah, seperti tata bahasa Arab, ulumul qur’an, asbab nuzul, hingga merujuk pada pandangan para ulama dan mazhab yang diakui.

“Mazhab itu bukan agama, tetapi cara Ulama dalam memahami teks ajaran agama (Nash) dengan kapasitas ilmu yang mereka miliki,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan agar masyarakat senantiasa mengedepankan sikap moderat, menjunjung tinggi prinsip tabayyun (meneliti kebenaran informasi), serta menempatkan keragaman pemahaman sebagai kekayaan intelektual umat Islam, bukan sebagai sumber permusuhan.

“Yang beda tidak perlu dipaksakan harus sama dan yang sama jangan dipaksakan harus beda,” pesannya bijak.

Pada kesempatan itu, Prof Zainal Abidin turut didampingi Sekretaris MUI Palu, Dr. KH. Ulumuddin Ahmad, MSI.

Melalui kegiatan pendampingan masyarakat yang turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Pascasarjana UIN Datokarama ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bagi takmir masjid, akademisi, dan ormas untuk lebih arif dalam menyaring informasi keagamaan di ruang digital demi merawat harmoni sosial di Sulawesi Tengah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *