Berita Terkini

Mesjid Raya Baitul Khairaat Catat Rekor MURI, Kubah dan Menara Jam Terbesar di Indonesia

×

Mesjid Raya Baitul Khairaat Catat Rekor MURI, Kubah dan Menara Jam Terbesar di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulteng, Andi Ruly Djanggola saat menerima sertifikat MURI. Foto: Dok Istimewa

POTRETCELEBES, Palu – Provinsi Sulawesi Tengah mencatatkan sejarah baru dalam pembangunan infrastruktur keagamaan dengan hampir rampungnya pembangunan Mesjid Raya Baitul Khairaat yang dimulai sejak 23 Oktober 2023 dan dijadwalkan selesai pada 15 November 2025.

Menjelang akhir masa pembangunan, sejumlah fakta menarik dan pencapaian monumental dari mesjid ini mulai terungkap. Mesjid yang dibangun untuk menggantikan Mesjid Agung Darussalam pascabencana 2018 itu kini resmi menyandang dua rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI): kubah terbesar di Indonesia dengan diameter 90 meter, dan jam analog terbesar di Indonesia pada menara setinggi 66,66 meter dengan diameter 19,3 meter.

“Mesjid ini tidak dibangun untuk mengejar rekor, namun berdasarkan desain pemenang sayembara tahun 2021. Penilaian MURI adalah bentuk pengakuan atas pencapaian konstruktif dan arsitektural yang luar biasa,” ungkap Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulteng, Andi Ruly Djanggola yang mewakili Gubernur Sulteng dalam acara penyerahan sertifikat MURI di kantor pusat MURI, Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Penyerahan sertifikat sebenarnya dijadwalkan berlangsung pada 20 Oktober 2025 di Aula Mesjid Raya Baitul Khairat. Namun, karena belum dilakukannya serah terima hasil pekerjaan hingga tanggal penyelesaian resmi pada 15 November 2025, MURI dan pihak pelaksana proyek, PT Pembangunan Perumahan (PP), memindahkan acara ke Jakarta demi memenuhi prosedur.

Dalam sambutannya, Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, mengungkapkan lima fakta menarik dari Mesjid Raya Baitul Khairat yang menjadi daya tarik nasional:

  1. Kubah terbesar di Indonesia dengan diameter 90 meter – memecahkan rekor nasional.
  2. Jam analog terbesar di Indonesia dengan diameter 19,3 meter yang terpasang di menara kembar.
  3. 99 ornamen jendela yang merepresentasikan 99 Asmaul Husna.
  4. Menara kembar setinggi 66,66 meter, melambangkan 6.666 ayat dalam Al-Qur’an yang memuat tema perintah, larangan, halal, haram, dan ancaman.
  5. Tinggi bangunan 30 meter dari dasar tanah, mencerminkan 30 juz dalam Al-Qur’an.

Gubernur Sulawesi Tengah, melalui Kepala Dinas Cikasda, menyampaikan bahwa pembangunan mesjid ini melewati tiga masa kepemimpinan gubernur:

  • Longki Djanggola (Gubernur ke-10): menggagas sayembara desain pasca kerusakan akibat bencana 2018.
  • Rusdi Mastura (Gubernur ke-11): meletakkan batu pertama pembangunan dan meresmikan nama Mesjid Raya Baitul Khairat.
  • Anwar Hafid, (Gubernur ke-12): membentuk lembaga pengelola mesjid untuk pengelolaan pascapembangunan.

Menariknya, desain mesjid ini sarat makna filosofis, terutama angka 9 yang menjadi dasar penentuan ukuran kubah dan jam analog. Angka tersebut merujuk pada Surat At-Taubah, surat ke-9 dalam Al-Qur’an, yang bermakna “pengampunan”. Filosofi ini mencerminkan harapan agar mesjid menjadi rumah kebaikan, tempat memohon ampunan dan keberkahan bagi masyarakat Palu dan Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *