Berita TerkiniOpini

Pemuda Sigega Bersehati Menagih Janji: Kapan Desa Kami Bisa Sejahtera?

×

Pemuda Sigega Bersehati Menagih Janji: Kapan Desa Kami Bisa Sejahtera?

Sebarkan artikel ini
Guflan, Pemuda Desa Sigega Bersehati, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong

Oleh: Guflan, Pemuda Desa Sigega Bersehati, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong

Sebagai pemuda Desa Sigega Bersehati, saya merasa terpanggil untuk menyuarakan keresahan yang dirasakan oleh banyak warga, khususnya kaum muda, terhadap kondisi pembangunan desa kami yang masih jauh dari kata memuaskan. Dalam era keterbukaan dan transparansi seperti sekarang ini, masih saja ada desa yang tertinggal karena tata kelola pemerintahan yang kurang baik, salah satunya adalah kampung kami sendiri.

Kami menilai bahwa pengelolaan dana desa di Desa Sigega Bersehati belum transparan dan tidak melibatkan partisipasi masyarakat secara maksimal. Dalam setiap rapat atau pembahasan mengenai anggaran, pemuda dan elemen masyarakat yang kritis justru kerap dikesampingkan. Yang diundang dan dilibatkan hanyalah segelintir orang yang tidak banyak bersuara, atau bahkan tidak punya keberanian untuk menyampaikan kritik dan aspirasi masyarakat.

Baca Juga: Camat Bolano Lambunu: 7 Korban Hilang Akibat Longsor Dipastikan Meninggal Dunia, 2 Jenazah Ditemukan

Hal ini sangat bertentangan dengan semangat Undang-undang Desa No. 6 Tahun 2014 yang kemudian diperbarui melalui UU No. 3 Tahun 2024. Undang-undang tersebut secara jelas mengatur tentang keterbukaan informasi dan keharusan bagi pemerintah desa untuk menyampaikan secara transparan seluruh proses perencanaan hingga pelaporan penggunaan dana desa. Masyarakat desa memiliki hak penuh untuk mengetahui bagaimana anggaran digunakan, pos-pos apa saja yang dibentuk, serta untuk apa pembangunan dilakukan.

Namun yang terjadi di lapangan sungguh mengecewakan. Dengan anggaran dana desa yang cukup besar, seharusnya pembangunan menjadi prioritas utama. Akan tetapi, Desa Sigega Bersehati tampak stagnan dan tak menunjukkan kemajuan yang berarti. Tidak ada peningkatan signifikan dalam sektor infrastruktur, pendidikan, maupun layanan kesehatan. Bahkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung masyarakat pun seakan luput dari perhatian.

Kami, pemuda desa, merasa prihatin karena perkembangan desa tidak mencerminkan potensi yang sebenarnya. Ketidakjelasan pengelolaan dana desa menjadi akar dari berbagai permasalahan ini. Seharusnya setiap rupiah yang dikeluarkan tercatat dengan rinci, diumumkan secara terbuka, dan dapat diakses oleh seluruh warga. Jika tidak ada transparansi, maka potensi penyalahgunaan akan selalu mengintai dan pada akhirnya rakyat yang menjadi korban.

Baca Juga: Tim SAR Evakuasi Jenazah Ketiga Korban Longsor di Desa Tirtanagaya

Lebih jauh lagi, kami juga menyoroti tidak adanya laporan berkala terkait penggunaan dana desa. Pos anggaran untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi lokal seharusnya dijelaskan secara mendetail dan dilaporkan secara periodik kepada masyarakat, agar masyarakat dapat mengevaluasi dan turut mengawasi.

Selain transparansi, partisipasi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan juga sangat penting. Pemerintah desa seharusnya membuka ruang dialog yang sehat, seperti musyawarah desa yang inklusif, di mana semua elemen masyarakat—termasuk pemuda dan tokoh masyarakat—dilibatkan dalam menyusun skala prioritas pembangunan. Bukan hanya segelintir orang yang “aman dan nyaman” saja yang diikutsertakan.

Kami berharap pemerintah Kabupaten Parigi Moutong juga tidak tinggal diam. Sudah seharusnya ada pengawasan yang lebih ketat dan evaluasi berkala terhadap tata kelola dana desa di Sigega Bersehati. Desa yang tidak transparan dan tertutup terhadap kritik hanya akan memperlambat kemajuan dan membuat warga terus berada dalam ketertinggalan.

Kami ingin perubahan. Kami ingin Desa Sigega Bersehati berkembang, baik di bidang pertanian, pembangunan infrastruktur, olahraga, hingga kesejahteraan sosial. Kami ingin desa ini menjadi tempat yang layak untuk tumbuh dan berkembang, bukan hanya untuk kami, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

Baca Juga: HUT ke-17 Sigi, 160 Koperasi Merah Putih Resmi Berbadan Hukum

Sudah saatnya suara pemuda tidak lagi diabaikan. Karena kami bukan sekadar penonton, tapi bagian dari kekuatan desa yang ingin melihat tanah kelahiran kami maju dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *