Opini

Menyembelih Ego, Merawat Harmoni: Relevansi Filosofis Ibadah Qurban dalam Ruang Kebhinekaan

×

Menyembelih Ego, Merawat Harmoni: Relevansi Filosofis Ibadah Qurban dalam Ruang Kebhinekaan

Sebarkan artikel ini
Ketua FKUB Sulteng, Prof. H. Zainal Abidin

Oleh: Prof. Dr. KH. Zainal Abidin
Ketua FKUB Provinsi Sulawesi Tengah
Rais Syuriyah PBNU
Ketua MUI Kota Palu

Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Adha dengan ritual yang sangat khas, yakni penyembelihan hewan qurban. Secara syariat, ibadah ini merupakan refleksi keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menunjukkan kepatuhan total kepada Allah SWT. Namun di balik ritual itu, qurban sesungguhnya menyimpan pesan filosofis dan sosial yang sangat dalam, terutama dalam konteks kehidupan masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompleks, tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan umat beragama bukan semata-mata terletak pada perbedaan keyakinan, melainkan pada munculnya egoisme sosial dan teologis yang melahirkan intoleransi. Dalam situasi seperti ini, qurban tidak cukup dipahami hanya sebagai ritual keagamaan tahunan, tetapi harus dimaknai sebagai proses penyucian diri dan pendidikan kemanusiaan.

Secara simbolik, hewan yang dikurbankan sejatinya merepresentasikan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Keserakahan, egoisme, kerakusan, sikap merasa paling benar, hingga kecenderungan menindas yang lemah adalah watak-watak yang harus “disembelih” melalui spirit qurban.

Dalam kehidupan antarumat beragama, sifat-sifat tersebut sering menjelma dalam bentuk klaim kebenaran yang berlebihan. Seseorang merasa dirinya paling benar, sementara kelompok lain dianggap salah, sesat, bahkan tidak layak diterima dalam ruang sosial. Sikap seperti inilah yang menjadi bibit keretakan harmoni kebangsaan.

Karena itu, ketika pisau qurban menyentuh hewan sembelihan, sejatinya yang juga harus dipotong adalah ego merasa benar sendiri. Islam mengajarkan keyakinan terhadap kebenaran iman pribadi, tetapi tidak pernah membenarkan penghinaan terhadap keyakinan orang lain. Ruang kebhinekaan membutuhkan kerendahan hati, bukan kesombongan moral.

Kerukunan umat beragama juga sering kali terganggu bukan karena ajaran kitab suci, melainkan karena prasangka dan kedengkian yang terus dipelihara. Perbedaan budaya, etnis, maupun keyakinan acap kali melahirkan rasa curiga satu sama lain. Dalam konteks inilah qurban mengajarkan makna pengorbanan yang lebih hakiki: mengorbankan prasangka buruk demi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.

Kedengkian adalah penyakit sosial yang perlahan merusak persaudaraan kemanusiaan. Ketika seseorang rela “menyembelih” prasangkanya terhadap orang lain, maka pada saat itu ia sedang membersihkan dirinya sendiri. Sebab harmoni tidak akan lahir dari kebencian yang dipelihara.

Qurban juga mengajarkan bahwa membangun jembatan kerukunan membutuhkan pengorbanan nyata. Kita harus rela mengorbankan kebiasaan menyalahkan orang lain, mengorbankan hasrat mencaci perbedaan di media sosial, serta mengorbankan ego untuk selalu menang sendiri dalam perdebatan. Tanpa pengorbanan itu, perdamaian hanya akan menjadi slogan kosong.

Menariknya, dalam dimensi sosial, pembagian daging qurban menunjukkan keluasan ajaran Islam yang sangat humanis. Mayoritas ulama membolehkan daging qurban diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang agama. Pesan ini sangat kuat: bahwa di hadapan kemanusiaan, sekat-sekat sosial dan dogmatis harus mencair.

Saat seorang Muslim berbagi daging qurban kepada tetangga non-Muslim, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar hubungan sosial, melainkan jembatan kemanusiaan. Tidak ada kepentingan lain selain ketulusan berbagi kebahagiaan. Di titik itulah qurban menjadi instrumen perekat harmoni sosial.

Melalui qurban, agama tampil bukan sebagai simbol eksklusivisme yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang menghadirkan kasih sayang dan solidaritas sosial. Nilai-nilai agama menjadi hidup karena hadir dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti pada rutinitas tahunan membeli hewan, menyembelih, lalu membagikan daging semata. Lebih dari itu, qurban harus melahirkan manusia-manusia yang lebih bijaksana, rendah hati, dan terbuka terhadap perbedaan.

Jika spirit qurban benar-benar dipahami, maka setiap Idul Adha semestinya menghadirkan kualitas kerukunan yang semakin baik di tengah masyarakat. Kita keluar dari “madrasah qurban” sebagai pribadi yang telah menyembelih ego, memotong prasangka, dan mengubur kedengkian demi merawat Indonesia yang damai dan harmonis.

Pada akhirnya, qurban bukan hanya tentang mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga tentang mendekatkan hati antarsesama manusia. Sebab hakikat keberagamaan yang paling luhur adalah menghadirkan kasih sayang, menjaga persaudaraan, dan merawat kebhinekaan sebagai anugerah bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *