Opini

Kader PMII dan Santri Protes Trans7: Kembalikan Marwah Pesantren!

×

Kader PMII dan Santri Protes Trans7: Kembalikan Marwah Pesantren!

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok Istimewa

Oleh: Moh Hisraful Hidayah, Wakil Sekretaris 2 PKC PMII Sulteng

Melalui tulisan ini, dan dengan kerendahan hati. Sebelumnya, izinkan saya menyampaikan kegelisahan saya sekaligus mewakili keresahan dari sahabat-sahabat lain yang juga merupakan kader PMII bahwa tulisan ini dibuat bukan untuk mencari sensasi, atau bahkan ingin membuat kegaduhan. Akan tetapi, tulisan ini lahir dari kesadaran saya sebagai seorang santri dan kader PMII.

Dimana ketika kami mendengar bahwa marwah pesantren telah dilecehkan, maka kami terpanggil untuk hadir, dan menegakkan kehormatan pondok pesantren tempat kami belajar.

Sebagai kader PMII, sekaligus seorang santri yang di didik, ditempa, dipondok pesantren tempat dimana kami diajarkan dan dituntut oleh guru-guru kami untuk selalu mengedepankan nilai-nilai Akhlak dalam setiap persoalan.

Sahabat-sahabat sekalian.!
Beberapa waktu lalu, dalam sebuah berita yang ditayangkan oleh media Trans7, dimana isi dalam berita tersebut, media Trans7 mencoba untuk menyebarkan berita yang mencoreng nama baik tempat kami menimba ilmu dan membentuk akhlak.

Maka dari itu.!
Hari ini, kami ingin menyampaikan rasa kekecewaan kami sebagai seorang kader PMII dan seorang santri, terhadap berita yang ditayangkan oleh media Trans7 ditanggal 13 Oktober 2025.

Hari ini…!
Ketika ditengah-tengah semangat kami, dalam menyambut hari besar bagi kami yaitu pada tanggal, 22 Oktober 2025 yang sering disebut sebagai (Hari Santri).

Kami berharap pada momentum ini, kami dapat merasakan bagaimana perjuangan para santri sebagai mana yang kita dengar dan ketahui bersama bahwa mereka merupakan salah satu sosok pejuang yang selalu setia untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Bahkan, dengan didasari kesetiaan terhadap bangsa dan negara, merekapun rela mati hanya demi berjuang untuk Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, hari ini justru kami menyaksikan media Trans7, yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi, dan menjadi salah satu media televisi nasional dimana seharusnya menerbitkan/mempertontonkan berita-berita positif yang memberikan pelajaran bagi kita semua dalam menyambut hari besar (Hari Santri 22 Oktober 2025).

Akan tetapi, disela-sela semangat kami dalam menyambut Hari Santri, media Trans7 justru menjadi alat untuk menebar stigma, dan fitnah terhadap pondok pesantren tempat kami belajar dan menimba ilmu.

Sahabat-sahabat.!
Pesantren bukanlah sarang kejahatan, pesantren bukan tempat kebodohan. Melainkan, pesantren adalah benteng moral bagi Agama, bangsa, dan Negara.
Sehingga dari pesantren lahir para ulama, guru, dan pejuang-pejuang yang selalu setia dan terus menjaga negeri ini dari kegelapan zaman.

Maka, melalui tulisan ini.!
Saya dan sahabat-sahabat lainnya menyampaikan bahwa kami selaku kader PMII, dan juga sebagai seorang santri, menuntut agar media Trans7 segera melakukan Tabayyun serta mengembalikan Marwah dari pondok pesantren yang sebelumnya telah dilecehkan oleh pihak media Trans7 di tanggal 13 Oktober 2025.

Pesan kami kepada seluruh Kader PMII dan seluruh santri dinusantara…
Jangan pernah takut, jangan pernah gentar, ketika ada yang mencoba untuk mencoreng nama baik dari pondok pesantren tempat kita belajar.

Karena suara kita adalah suara kebenaran, suara kita adalah suara yang selalu setia dalam menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Tunjukkan pada mereka bahwa perlawanan kita bukan dengan kebencian, melainkan perlawanan kita hari ini adalah dengan ilmu, adab, dan keberanian moral, sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru-guru kita di pondok pesantren.

Semoga dengan tulisan ini, mereka sadar bahwa apa yang guru-guru kita ajarkan dipondok pesantren, tidak seperti apa yang mereka bayangkan.

Pada momentum Hari Santri 22 Oktober 2025 ini, mari kita perkuat komitmen, untuk selalu setia dalam menjaga nama baik pondok pesantren kita. Serta senantiasa terus berkontribusi bagi Agama, bangsa, dan negara. Dengan ilmu dan akhlak yang mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *