Opini

Duduk di Kursi yang Sama

×

Duduk di Kursi yang Sama

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok Yusuf Wempy

Oleh: Yusuf Wempy

Ada yang lebih penting dari filmnya sendiri pada Senin malam, 21 September 2026 di XXI Palu Grand Mall.

Bukan tentang layar besarnya. Bukan tentang haru birunya cerita Ruben Adrian. Tapi tentang di mana Wali Kota Palu H. Hadianto Rasyid, SE memilih untuk duduk.

Ia tidak duduk di kursi VVIP yang disiapkan protokol. Ia duduk bersama. Sejajar. Di antara saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Menonton film yang judulnya “Istimewa”.

Di situlah makna Kota Palu yang inklusif itu diuji. Bukan di dokumen perencanaan, bukan di pidato seremonial. Tapi di dalam gelapnya bioskop, saat semua mata tertuju ke layar yang sama.

Wali Kota berkata: “Inilah komitmen dan perhatian besar kepada saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Mereka pun berhak hadir di tengah kita dan menjadi bagian untuk dirangkul dan diberikan ruang sebagai bagian dari warga Kota Palu.”

Kalimat itu sederhana, tapi menampar kita semua. Selama ini kita sering menganggap perhatian kepada disabilitas adalah soal bantuan, santunan, atau kursi roda. Padahal yang paling mereka butuhkan adalah pengakuan yang paling dasar: dianggap ada.

Film “Istimewa” sendiri mengajarkan itu. Rumah Istimewa milik Pak Mahendra (Mathias Muchus) bukan sekadar tempat tinggal anak-anak disabilitas. Itu adalah rumah tentang cinta yang tidak mengukur manusia dari fisiknya. Ketika sang Ayah sakit kanker dan pergi diam-diam, anak-anak itu justru menunjukkan keteguhan luar biasa untuk mencari cinta mereka. Mereka ditemani Bagas, Aji, dan Ella dalam sebuah perjalanan yang menguji arti keluarga sejati.

Betapa miripnya dengan Palu. Kota ini pernah diuji oleh bencana paling dahsyat. Kita tahu rasanya ditinggalkan, kehilangan, dan harus berjalan mencari harapan. Dan seperti anak-anak di film itu, kita bertahan karena kita berjalan bersama.

Nobar malam itu adalah pesan politik yang paling jujur.

Bahwa membangun Palu bukan hanya membangun jalan dan jembatan. Membangun Palu adalah memastikan tidak ada satu pun warganya yang harus menonton kehidupan kota ini dari luar jendela bioskop.

Makna yang bisa dipetik setelah menonton film Istimewa adalah: Tidak ada manusia yang tidak istimewa. Yang ada hanyalah ruang yang belum kita buka cukup lebar untuk mereka.

Malam itu, di Palu Grand Mall, Wali Kota telah membuka ruang itu. Duduk di kursi yang sama. Tertawa di adegan yang sama. Terharu di ending yang sama.

Karena pada akhirnya, kita semua sama. Warga Kota Palu yang saling menguatkan.

Dan itu yang membuat kita benar-benar Istimewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *